Rabu, 31 Agustus 2011

Eugleonophyta

   PENGERTIAN

      `           Euglenophyta adalah organisme bersel satu yang mirip hewan karena tidak berdinding sel dan mempunyai alat gerak berupa flagel sehingga dapat bergerak bebas. Mirip tumbuhan karena memiliki klorofil dan mampu berfotosintesis. Hidup di air tawar, dalam tanah dan tempat lembab, contohnya: Euglena.
Filum ini hidup dalam air tawar yang mengandung banyak bahan organik. Pada permukaan perairan yang tidak bergerak, beberapa genus dari golongan Euglenacae dapat membuat kista yang menutupi seluruh permukaan perairan dan berwarna hijau, merah,kuning, atau warna campuran dari ketiganya.
Euglena terdapat di air tawar, misal di sawah. Bentuk tubuh sel oval memanjang, pada mulut sel terdapat cambuk atau flagel dan digunakan untuk bergerak. Dekat mulut terdapat bintik mata (stigma) yang gunanya untuk membedakan gelap dan terang. Di dalam sitoplasmanya terdapat butir kloroplas yang berisi klorofil. Oleh karena itu Euglena berwarna hijau. Contohnya Euglena viridis,
Euglena dapat membuat makanan sendiri dengan cara fotosintesis dan juga dapat memakan zat-zat organik. Karena Euglena mampu melakukan fotosintesis maka dikatakan hidup secara fotoautotrof. Di samping itu dikatakan juga sebagai heterotrof karena memakan bahan organik yang tersedia. Cara berkembang biak yaitu dengan membelah diri yang disebut pembelahan biner.

2.1 SIFAT- SIFAT UMUM

• Mempunyai titik merah pada bagian anterior dalam tubuhnya yang sensitive terhadap sinar, bagian ini dianggap sebagai mata . sehubungan hal tersebut maka filum ini diberi nama Euglenophyta ( eu berarti sungguh- sungguh, glenos berarti mata) berarti alga yang sungguh- sungguh mempunyai mata.. filum ini terdidri dari holofitik, saprofitik, dan holozoic tipe.
1. Holofitic tipe mempunyai cadangan makanan karbohidrat yang disebut paramilum, protein dalam bentuk pirenoid dan lemak; mempunyai flagel yang agak panjang yang sering kali melebihi panjang tubuhnya. Beberapa species dari filum ini ada yang menpunyai satu (sebagian besar), 2 atau 3 flagel. Dalam kista, specimen- specimen melepas flagel nya dan dapat dibuat lagi bila specimen- specimen keluar dari kiasta dan hidup sebagai plankton.
2. Mempunyai pigmen- pigmen klorofil a, b, dan carotene, sedangkan warna merah yang ada pada badannya disebabkan oleh adanya hematokrom. Warna merah permukaan air disebabkan oleh kista- kista dari Euglena haematodes dan Euglena sanguineus yang berarti merah. Perbedaan antara species haematodes dan sanguenius, terletak pada panjangnya flagel; E. haematodes flagelnya lebih panjang dari E.sanguenius. golongan Euglea spp. Mempunyai diding seperti membrane tipis, lunak dan bebtuknya berubah- rubah bila ada substrat, beberapa juga ada yang bergerak maju dan memperanajng dan memeperpendek seperti ulat.

Jenis- jenis Phacus, dindinganya keras karena periplast mengeras sehingga sehingga bentuk nya tidak berubah- rubah. Jenis ini ppi berwarna hijau, ditengah-tengahnya terdapat makanan cadangan karbohidrat paramilum dan intinya terlihat besar. Pada Phacus, yang masih hidup terlihat titik merah yang mempunyai fungsi seperti mata.
Genus seperti Trachelomonas spp. Dan Leposinclis yang berdinding tebal sekali berbentuk seperti bola atau kotak didalamnya terdapat protoplasma mempunyai flagel yang keluar dari diding sel yang tebal

2.2 Cara berkembang biak

2.2.1 Aseksual
Dengan pembelahan sel, baik waktu sedang aktif bergerak atau dalam keadaan istirahat. Pada genera yang mempunyai lorika (pembungkus sel) protoplast membelah di dalam lorika, kemudian salah satu anak protoplast keluar dari lorikanya dan membentuk lorika baru, sedang yang satu tetap di dalam lorika lamanya dan tumbuh menjadi sel baru. Pada sel yang bergerak aktif, pembelahan memanjang sel (longitudinal) dan dimulai dari ujung anterior. Pada genera yang mempunyai satu flagella, mula-mula blepharoplast membelah menjadi dua, satu membawa flagelanya dan satu lagi akan menghasilkan flagella baru.
Pada yang mempunyai dua flagella, dapat terjadi salah satu sel anakan membawa dua flagel lamanya dan sel anakan yang lain akan menghasilkan dua flagella baru atau dapat terjadi masing-masing sel anakan membawa satu flagella dan kemudian masing-masing menghasilkan satu flagella lagi. Pembelahan sel pada yang tidak bergerak aktif dapat berlangsung dalam keadaan dibungkus oleh selaput lendir. Kadang-kadang protoplast anakan tidak keluar dari selaput pembungkusnya sebelum membelah lagi. Dalam kasus seperti ini akan terbentuk koloni yang tidak permanen, yang pada waktu tertentu selnya akan bergerak aktif kembali. Pada banyak genera dijumpai bentuk berupa siste berdinding tebal. Bentuk siste ada yang menyerupai sel vegetatifnya, tetapi kebanyakan bentuknya berbeda, bulat atau polygonal. Protoplast dapat menghasilkan sangat banyak euglenarhodone, sehingga berwarna sangat merah. Biasanya siste berkecambah dengan keluarnya protoplast dari dalam dinding yang tebal dan tumbuh manjadi sel baru yang bergerak aktif.







2.2.2 Seksual
Adanya konjugasi/penggabungan sel vegetatif pernah dijumpai pada beberapa euglenoid, tetapi kasus ini masih sangat kabur. Autogami (penggabungan dua inti anakan dalam sel), pernah dijumpai pada Phacus.
Contoh : genera Euglena (berwarna hijau)
Astasia (tidak berwarna)
Cryptomonas ( hijau )
Chilomonas (tidak bewarna)

Pada umumya Euglena spp. Membelah diri secara longitudinal selama hidup sebagai plankton yang dapat membelah diri waktu berada dalam kista. Genus Euglena dapat membentuk bermacam –macam kista yaitu:
1. Protective-cystes : kista ini dibentuk untuk perlindungan terhadap bahan- bahan yang beracun atau sinar matahari yang kuat, misalnya pada waktu pagi hari dan sore hari.
2. Reproductive-cyste : pada kista tersebut protoplasma membelah diri dalam 2 atau 4 bagian dan tiap bagian nanti menjadi satu individu dalam kista tiap individu dapat bergerak dengan flagel yang terbentuk
3. temporary – cyste : atau resting- cyste terbentuk pada individu beristirahat atau jika ada matahari yang kuat. Dinding- dinding kista dari selulosa ini dapat membuka dalam 2 bagian simetrik.


2.3 Sistematika
Selain dapat dibagi dalam tipe holofitik, saprofitik dan holozoik, Euglenophyta juga dapat digolongkan atas dasar bentuk dan anatomi spesiesnya:
1. Euglenecae dapat hidup holofitik atau saprofitik artinya ada golongan Euglenaceae yang holofitk dan ada saprofitik tidak ada specimen yang dapat hidup holofoik dan sekaligus saprofitik.
2. astaciaacae holozoik dan saprofitik
3. Peranemacae hanya hidup holozoik dan semua hidup secara benthal jika bahan organic dan sudah menjadi zooflagellata.

Species –species Euglenacae yang sering dijumpai di Indonesia antara lain Euglena haematodes, E. sanguineus, E.deses, E. viridis, E. acus, E. oxyuris dan E. fragilaria. Species- spesies E. haemotodes dan E. sanguineus yang menebabkan warna merah permukaan air, sedangakn E. deses dan E. viridian yang menyebabkan kolam berwarna hijau muda. Spesies E. spirogyra diberi nama semikian karena lorofilnya berbentuk spiral. Specimen lain yang holofitik dan masih termasuk Suglenacae ialah Trachelomonas armate, T .hispida, Phacis pleuronectus, P. Longicauda, P. Oxyurus, P. anomale. Jika terdapat blooming kuning seperti mengandung banyak humus. Trachelomonas spp. Yang bentuknya bulat, isinya berwarna agak kuning jernih dan berdiding tebal. Biasanya specimen- specimen ini terdapat pada perairan yang agak termasuk polisaprobik, yakni masih terdapat proses pembusukan dan sedikit mengadung oksigen.
Euglenacae tidak begitu menguntungkan bagi erikanan. Specimen dari Astasia spp an Peranema spp yang termasuk holozoik tipe bentuknya hampir tidak berbeda dengan Euglena hanya tidak berwarna dan tidak mempunyai stigma atau mata yang berwarna merah.
Pada specimen- specimen yang protoplasmanya tersimpan dalam kotak yang tebal dindingnya, protoplasma keluar dari kotak dan membelah diri, tiap prooplasma baru hasil dari pembelahan diri, membentuk kotak baru masing- masing.
Makanan Euglena sangat bervariasi meliputi segala organisme.hidup. Cytostoma Euglena dapat digembungkan dengan sangat besar untuk menelan mangsanya yang besar.
Bila Euglena tumbuh di tempat gelap dengan substrat organik yang cocok, warnanya hilang, tetapi akan berwarna kembali bila ada cahaya. Pada keadaan yang luar biasa, Euglena dapat menghasilkan suatu varietas/ras yang tidak berwarna (apokhlorotik), ras ini tetap tidak berwarna meskipun ada cahaya. Ras apokhlorotik ini dapat diperoleh dengan memperlakukan sel Euglena dengan streptomysin dalam cahaya.
Cadangan makanan Euglena berupa paramylum, yaitu karbohidrat yang tidak larut, bentuknya dapat berupa cakram cincin, batang atau bulat, yang kadang-kadang ukurannya relatif besar. Paramylum berupa polysaccharida yang rumus molekulnya menyerupai tepung/pati, tetapi tidak bereaksi dengan tes pati. Butir paramylum menyerupai butir pati/amylum, yaitu mempunyai lapisan yang konsentris.
Euglena sering kali dapat memberi warna pada air bila dalam jumlah yang banyak. Banyak dijumpai di dalam kolam-kolam kecil yang banyak mengandung bahan organik. Dalam bentuk kehidupan yang saprofit tanpa zat warna, jarang dijumpai dan bila ada biasanya terdapat pada tempat-tempat dimana terjadi purifikasi (pembusukan). Beberapa jenis Euglena hidup pada lumpur sepanjang tepi sungai, estuarine, atau payau-payau bergaram. Pada tempat ini dapat tumbuh subur sehingga cukup memberi warna pada lumpur. Jika populasinya di kolam sangat banyak, maka menyebabkan permukaan kolam seperti tertutup lapisan hijau yang dapat berubah warna menjadi merah dalam beberapa jam.

2.4 STRUKTUR SEL
Organisme ini mempunyai tingkat perkembangan lebih tinggi daripada Cyanophyta karena sudah mempunyai inti yang tetap dan mempunyai khloroplast seperti pada tumbuhan tinggi. Karena itu Euglena dapat melangsungkan fotosinthesa dan tumbuh seperti halnya pada tumbuhan tinggi. Semua euglenoid mempunyai satu atau dua flagella yang menyebabkan mereka dapat bergerak secara aktif. Selnya telah mempunyai bentuk yang tetap, dinding sel bukan terdiri dari selulosa melainkan suatu selaput tipis yang dapat mengikuti gerakan sel euglenoid yang sewaktu-waktu dapat berubah bentuk.
Flagella dari Euglena pangkalnya tertanam pada dasar waduk dan keluar sepanjang sitofarinx dan sitostoma. Yang mempunyai satu flagella, tumbuh ke muka. Genera yang mempunyai dua flagella, flagellanya sama panjang dan tumbuh ke arah depan tetapi lebih banyak genera yang flagellanya tidak sama panjang. Flagelnya mempunyai rumbai-rumbai sepanjang batang (tipe tinsel).
pergerakan flagella pada prinsipnya sama dengan pergerakan baling-baling. Pergerakan flagellum pada 1 atau 2 bidang digunakan untuk dorongan atau sentakan. Gelombang dari sistem undulatory ini lewatnya dari dasar ke ujung dan langsung mengendalikan organisme dalam arah yang berlawanan atau pergerakan gelombang lewat dari ujung ke dasar dan ini gerakan sentakan organisme.
Sel mempunyai sebuah pigmen merah menyerupai bintik mata. Pigmen merah ini merupakan astaxanthin yang hanya dijumpai pada golongan Crustaceae.
Cadangan makanan berupa paramilum yaitu bentuk antara dari polisakharida, jadi bukan berupa amilum seperti pada tumbuhan tinggi atau glycogen seperti pada binatang.
Euglenophyta dapat hidup secara autotrof tetapi juga secara saprofit; tidak dapat hidup dalam medium yang hanya mengandung garam-garam anorganik, tetapi akan cepat tumbuh bila dalam medium ditambah dengan sejumlah asam amino. Beberapa jenis hidup secara obligat saprofit sedang yang lain obligat autotrof, disamping ada yang hidup secara holozoik yaitu dapat menangkap dan menelan mangsanya seperti pada binatang.
Hubungan antara Euglenophyta dengan alga lainnya masih belum jelas. Melihat adanya persamaan dalam hal warnanya, maka diduga ada persamaannya dengan Chlorophyta, tetapi organisasi protoplast antara keduanya jauh berbeda. Dalam kenyataannya kelompok euglenoid ini mempunyai persamaan dengan Chrysophyta, Dinoflagellata dan Volvox.

Kesimpulan

Euglenophyta adalah organisme bersel satu yang mirip hewan karena tidak berdinding sel dan mempunyai alat gerak berupa flagel sehingga dapat bergerak bebas. Mirip tumbuhan karena memiliki klorofil dan mampu berfotosintesis. Hidup di air tawar, dalam tanah dan tempat lembab, contohnya: Euglena.

Cara berkembang biak
• Aseksual
Dengan pembelahan sel, baik waktu sedang aktif bergerak atau dalam keadaan istirahat. Pada genera yang mempunyai lorika (pembungkus sel) protoplast membelah di dalam lorika, kemudian salah satu anak protoplast keluar dari lorikanya dan membentuk lorika baru, sedang yang satu tetap di dalam lorika lamanya dan tumbuh menjadi sel baru. Pada sel yang bergerak aktif, pembelahan memanjang sel (longitudinal) dan dimulai dari ujung anterior. Pada genera yang mempunyai satu flagella, mula-mula blepharoplast membelah menjadi dua, satu membawa flagelanya dan satu lagi akan menghasilkan flagella baru.
• Seksual
Adanya konjugasi/penggabungan sel vegetatif pernah dijumpai pada beberapa euglenoid, tetapi kasus ini masih sangat kabur. Autogami (penggabungan dua inti anakan dalam sel), pernah dijumpai pada Phacus.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

your comment?????